kita dapat menjadi seperti kaca atau menjadi seperti baja
Selasa, 25 Februari 2014
0
komentar
Palu Menghancurkan Kaca,
Tetapi Palu Membentuk Baja
Apa makna dari pepatah kuno diatas?
Jika jiwa kita rapuh seperti kaca, maka ketika palu/masalah menghantam, kita akan mudah putus asa, frustasi, kecewa, marah, dan jadi remuk redam. Jika kita adalah kaca, maka kita juga rentan terhadap benturan. Kita mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kita berhubungan dengan orang lain. Sedikit benturan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan kita.
Selengkapnya.....Apa makna dari pepatah kuno diatas?
Jika jiwa kita rapuh seperti kaca, maka ketika palu/masalah menghantam, kita akan mudah putus asa, frustasi, kecewa, marah, dan jadi remuk redam. Jika kita adalah kaca, maka kita juga rentan terhadap benturan. Kita mudah tersinggung, kecewa, marah, atau sakit hati saat kita berhubungan dengan orang lain. Sedikit benturan sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan hubungan kita.
Jangan pernah jadi kaca, tapi jadilah baja. “Mental baja” adalah mental yang selalu positif, bahkan tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan yang benar-benar sulit tengah menghimpitnya.
Mengapa demikian? Orang yang seperti ini selalu menganggap bahwa “masalah adalah proses kehidupan untuk membentuknya menjadi lebih baik”. Sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang lebih berguna setelah lebih dulu diproses dan dibentuk dengan palu. Setiap pukulan memang menyakitkan, namun mereka yang bermental baja selalu menyadari bahwa itu baik untuk dirinya.
Jika hari ini kita sedang ditindas oleh masalah hidup, jangan pernah merespons dengan sikap yang keliru!
Jika kita adalah “baja”, kita akan selalu melihat palu yang menghantam kita sebagai sahabat yang akan membentuk kita. Sebaliknya jika kita “kaca” maka kita akan selalu melihat palu sebagai musuh yang akan menghancurkan kita.
Begitulah kehidupan kita,
Allah memberikan kita cobaan dan musibah tidak lain dan tidak bukan adalah
suatu ujian dalam proses untuk meninggikan derajat dan keimanan kita, semakin
kita sanggup bertahan dan semakin kita mampu melewati cobaan-cobaan yang
diberikan Allah, semakin Allah akan mencintai kita. Allah tidak akan pernah
memberikan cobaan kepada Kita apabila itu diluar kemampuan kita untuk
melewatinya, untuk menghadapinya. Perlu kita ingat, bahwa Allah lah maha segala
penguasa langit dan bumi, maha mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi.
Allah pulalah yang menentukan takdir kita, jodoh kita dan maut kita.
Sering kali kita lupa
kepada Allah ketika kita dalam keadaan senang, dan kembali kepada Allah ketika
kita dalam keadaan kesusahan. Dalam hidup ini, marilah kita perbanyak
dzikrullah, marilah kita tingkatkan keimanan dan ibadah kita kepada Allah,,,,agar
kita tidak menjadi seperti kaca yang akan rapuh ketika dihantam palu, agar kita
tidak mudah putus asa ketika mendapatkan cobaan dan musibah dari Allah,
melainkan agar kita bisa menjadi seperti Baja, yang akan selalu tegar dan kuat
dalam menghadapi cobaan dan musibah, karena semuanya akan seindah janji Allah,
bagi siapa-siapa yang selalu mengingat, beriman dan selalu beribadah kepada
Allah.
Semoga bermanfaat,
dan semoga kita dapat meningkatkan ibadah dan keimanan kita kepada Allah.
Aamiin ya rabb Al-aalamiin...
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: kita dapat menjadi seperti kaca atau menjadi seperti baja
Ditulis oleh Awalludin Ma'rifatullah
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://awalludin-rois.blogspot.com/2014/02/kita-dapat-menjadi-seperti-kaca-atau.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Awalludin Ma'rifatullah
Rating Blog 5 dari 5

0 komentar:
Posting Komentar