CInta Ibunda Kepada Anaknya
Senin, 24 Februari 2014
0
komentar
Terkadang, kita sering melawan, menolak perintah, bahkan membentak ibu
kita. Padahal sejak kita berada di dalam kandungan beliau, hingga kita
dilahirakan dan dewasa, betapa banyak pengorbanan yang beliau lakukan.
Pernahkah kita menghitung berapa liter beras dan berapa jenis makanan yang
telah dimasak oleh seorang ibu untuk anaknya, berapa meter lantai telah di-sapu
dan di-pel oleh seorang ibu, berapa banyak keheningan malam dilalui sang ibu
yang terjaga untuk anaknya, berapa kali kedua tangan sang ibu terangkat ketika
berdo'a, dan berapa banyak air mata mengalir ketika sujud mendo'akan
kebahagiaan dan keselamatan anaknya.
Sang Ibu telah bertahun-tahun menjelma menjadi perawat untuk penyakit
batuk, demam, flu, cacar, ataupun sekedar luka di kaki akibat terjatuh.
Ketika seorang sahabat Nabi ber-thawaf mengeliling Ka'bah sambil
menggendong ibunya yang sudah sepuh, ia bertanya pada Rasul yang mulia,
"Sudahkah terbayar lunas semua jerih payah ibuku?"
Rasul yang mulia
menjawab, "Tidak!, bahkan untuk menandingi rasa sakitnya saat melahirkan
engkau pun tidak terbayar!"
Dalam bahasa
lain, andaikan, sekali lagi, andaikan saja anda mempunyai gunung emas yang
kemudian anda berikan semuanya berikut seluruh perbendaharaan harta anda yang
lain untuk mengganti semua yang telah dilakukan oleh seorang ibu, niscaya itu
semua belum mampu membayar satu malam saja saat-saat ibu mengasuh anda. Tidak
pernah ada kata "cukup", "lunas", "terbayar"
untuk membalas cinta seorang ibu.
Sebagaimana bait potongan syair lagu “seperti udara, kasih yang kau
berikan. Tak sanggup ku membalasmu, IBU” kita tidak akan pernah sanggup
membalas kasih sayang dan perngorbanan Ibu kita, sampai kapanpun kita tidak
akan pernah bisa..
Kita durhaka pada bunda bila bunda tinggal di rumah kecil dan bocor
disana-sini, sementara kita tinggal di tempat yang nyaman; kita berdosa bila
kita menikmati makan siang yang lezat dan penuh gizi sementara bunda hanya
memakan seadanya; kita berdosa bila menghitung biaya sekolah anak dan karena
itu menghindar membelikan obat bagi bunda yang tengah sakit; Kita berdosa bila
kita dalam perjalanan yang sangat nyaman dalam mobil mewah, sementara bunda
naik kendaraan umum yang penuh sesak; kita tergolong anak durhaka bila kita
sanggup piknik atau jalan-jalan dengan isteri namun selalu saja punya alasan
untuk tidak mengunjungi atau bersilaturahmi ke tempat bunda (atau berziarah ke
kuburannya bila bunda telah tiada).
Jangan gunakan
logika untuk berkhidmat pada bunda. Balas cintanya dengan cintamu. Kenapa?
Karena "Ridha Allah terletak pada ridha orang tua," begitulah ajaran
agama kita.
Bagaimana kita
bisa membagi cinta kita untuk keluarga, pekerjaan, dan sekaligus untuk ibunda?
Jawabannya adalah: kita tidak pernah membagi cinta; tetapi kita selalu
melipatgandakannya. Balaslah kekuatan cinta ibunda dengan ketulusan cinta kita;
insya Allah -- di atas--cinta sang bunda akan terus melindungi kehidupan kita.
"Ya Rabb, ampuni dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, dan
sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi kami sewaktu kecil"
Catatan : Buat renungan untuk kita semua, betapa besar dan agungnya cinta
ibu kita kepada kita, sejak dalam kandungan hingga sekarang ini, setelah dewasa
dan berdiri sendiri, dapat bekerja, pendidikan dan ajaran agama yang baik,
semoga kiranya dapat menjadi pelajaran.
Teruntuk Ibunda
Tercinta...
Maafkan Anakmu belum Bisa
menjadi yang terbaik, belum bisa memberikan yang terbaik,,,
Maafkan anakmu ibunda,,,
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: CInta Ibunda Kepada Anaknya
Ditulis oleh Awalludin Ma'rifatullah
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://awalludin-rois.blogspot.com/2014/02/cinta-ibunda-kepada-anaknya.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Awalludin Ma'rifatullah
Rating Blog 5 dari 5

0 komentar:
Posting Komentar