Berpikir Secara Mendalam
Kamis, 24 April 2014
0
komentar
Banyak yang beranggapan
bahwa untuk "berpikir secara mendalam", seseorang perlu memegang
kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang
sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah
menganggap "berpikir secara mendalam" sebagai sesuatu yang
memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah
untuk kalangan "filosof".
Padahal, sebagaimana
telah disebutkan dalam pendahuluan, Allah mewajibkan manusia untuk berpikir
secara mendalam atau merenung. Allah berfirman bahwa Al-Qur'an diturunkan
kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan: "Ini adalah sebuah kitab
yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan
(merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai pikiran" (QS. Shaad, 38: 29). Yang ditekankan di sini adalah
bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam
meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir.
Sebaliknya, orang-orang
yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam akan terus-menerus hidup dalam
kelalaian yang sangat. Kata kelalaian mengandung arti "ketidakpedulian
(tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan, tidak menghiraukan,
dalam kecerobohan". Kelalaian manusia yang tidak berpikir adalah akibat
melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan diri mereka
serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang sangat berbahaya yang
dapat menghantarkan seseorang ke neraka. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah
memperingatkan manusia agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang
lalai:
"Dan sebutlah (nama)
Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak
mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang lalai." (QS. Al-A’raaf, 7: 205)
"Dan berilah mereka
peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus.
Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman." (QS. Maryam,
19: 39)
Dalam Al-Qur'an, Allah
menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenung dan
pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka takut kepada
Allah. Sebaliknya, Allah juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para
pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar
mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para
pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah
orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena
tidak berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa
disertai rasa takut kepada Allah. Mentalitas golongan ini sebagaimana
digambarkan dalam Al-Qur'an:
Katakanlah:
"Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu
mengetahui?"
Mereka akan menjawab:
"Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak
ingat?"
Katakanlah:
"Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang
besar?"
Mereka akan menjawab:
"Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak
bertakwa?"
Katakanlah:
"Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang
Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika
kamu mengetahui?"
Mereka akan menjawab:
"Kepunyaan Allah." Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari
jalan manakah kamu ditipu (disihir)?"
"Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada
mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta."
(QS. Al-Mu’minuun, 23: 84-90)TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Berpikir Secara Mendalam
Ditulis oleh Awalludin Ma'rifatullah
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://awalludin-rois.blogspot.com/2014/04/berpikir-secara-mendalam.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Awalludin Ma'rifatullah
Rating Blog 5 dari 5

0 komentar:
Posting Komentar